Biografi Novel Baswedan Penyidik KPK





Novel Baswedan Penyidik KPK. Adalah Novel Baswedan Penyidik KPK asal Polri yang menyelidiki dugaan kasus Korupsi pengadaan Simulator SIM di Mabes Polri tersebut. Novel Baswedan adalah mantan anggota Polri berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kompol) yang menolak untuk ditarik kembali ke Polisi setelah ditetapkan menjadi pegawai KPK.

Novel Baswedan sudah mengabdi di KPK hampir 6 tahun, ia dikenal sebagai seorang yang pintar dan jenius, oleh karena itu banyak kasus-kasus besar diselidikinya. Novel juga merupakan salah satu penyidik penting di KPK. Kepribadian yaitu tegas dan low profil yang membuat banyak di segani oleh anak buahnya. Tidak heran pangkatnya terus naik hingga Komisaris Besar Polisi.


Novel Baswedan adalah sepupu dari Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan. Ia adalah pribadi yang sangat menyayangi sang ibu, hal itu terbukti ketika pada Jumat 5 Oktober 2012 sejumlah polisi mendatangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi hendak menangkapnya, Novel mengabari sang kakak Taufik Baswedan lewat telepon. "Dia bilang, ''Tolong jaga Ibu," kata Taufik.

Nama Novel Baswedan semakin meroket ketika dirinya yang mantan anggota Polri justru menjadi bagian tim penyidik kasus korupsi yang membelit Kepolisian. Hal ini membuat Polri melakukan tindakan menarik 20 Penyidiknya di KPK. Dari 20 orang penyidik Polri ternyata ada 5 penyidik yang menolak untuk kembali ke kepolisian dan meminta alih status menjadi pegawai KPK, salah satunya adalah Novel Baswedan.

Penolakan yang dilakukan Novel Baswedan untuk kembali ke Polri tak ayal membuat institusi penegak hukum ini mencari-cari kesalahan yang pernah dilakukan Novel semasa menjabat di Polri. Salah satunya adalah dugaan tindak pidana menembak pencuri sarang burung walet di Bengkulu 8 tahun yang lalu tepatnya tahun 2004. Saat itu Novel Baswedan menjabat sebagai Kasatserse Polda Bengkulu periode 1999–2005.

Novel Baswedan lahir di semarang pada 22 Juni 1977 Novel mengawali kariernya dari anggota kepolisian setelah ia lulus dari SMA N 2 Semarang kemudian Novel melanjutkan di akademi polisi dan lulus pada tahun 1998. Setahun kemudian Novel ditempatkan di bengkulu dan bertugas di Bengkulu hingga tahun 2005, Namun pada tahun 2004 ketika Novel menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu yang berpangkat Komisaris. Bermula dari tugasnya di Bengkulu dari sanalah akhirnya Novel Baswedan ditarik ke Bareskrim Mabes Polri. Kemudian pada Januari 2007 ditugaskan sebagai penyidik untuk KPK dan resmi diangkat menjadi penyidik tetap KPK tahun 2014 lalu.

Novel Baswedan dalam menjalankan tugasnya dikenal tegas dan tidak pernah pandang bulu karena menurutnya orang yang tersandung dalam kasus KPK merupakan seorang penjahat. Bahkan dalam mengusut suatu kasus mega korupsi proyek pembangunan hambalang Novel jugalah yang mampu membawa pulang Muhammad Nazarudin kembali pulang ke Indonesia untuk menyelesaikan kasusnya.

Selain itu juga suami dari Rina Emilda ini juga mampu mengungkap kasus Ketua MK Akil Mochtar dalam kasus jual beli perkara Pilkada. Novel juga berhasil mecium kasus korupsi SIM yang melibatkan institusi Polri yang merupakan penegak hukum, tempat ia mengawali kariernya dalam menyelesaikan berbagai kasus korupsi sebagai seorang polisi. Dalam kasus dugaan korupsi simulator SIM, ia berhasil menyeret beberapa nama sekaligus tokoh petinggi penting Polri. yang ditambah lagi, ia dengan berani secara terang-terangan dalam memeriksa mantan Kakorlantas Polri Irjen Djoko Susilo. Tentu saja ini mengundang polemik baik dalam kubu KPK maupun kubu Polri karena menimbulkan keretakan antara KPK dan Polri.

Perseteruan antara kedua belah pihak tersebut yaitu KPK dan Polri, pada tahun 2012, Novel sempat digelandang oleh mabes Polri karena dianggap sebagai tersangka dalam sebuah kasus dugaan penembakan terhadap pencuri sarang burung walet saat ia masih bertugas di Polres Bengkulu pada tahun 2004 silam. Tentu saja, Novel membantah dengan tegas dalam keterlibatannya dalam kasus penembakan pencuri sarang burung walet.

Bahkan ketegangan kedua institusi tersebut memaksa para penyidik yang berasal dari polisi yang berada di KPK untuk ditarik kembali ke dalam Mabes Polri. Novel yang merupakan salah satu sosok yang memilih untuk keluar dari polisi dan memilih menjadi seorang penyidik di KPK. Setelah keputusan tersebut Novel kemudian diangkat sebagai penyidik tetap pada tahun 2014. Di tengah menjalani tugasnya, pada tahun 2015, kasus burung walet diungkit lagi. Novel ditangkap di kediamannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namun, ayah 4 anak ini terbebas karena tidak cukup bukti dalam menetapkan Novel sebagai tersangka.

Pada 11 April 2017 cobaan dan teror kembali menerpa Novel Baswedan. Kejadian tersebut terjadi saat ia menangani kasus korupsi E-KTP yang merupakan kasus terbesar yang bahkan menyeret nama-nama penting, usai salat subuh di Masjid Al Ikhsan, Jakarta, Novel disiram dengan air keras oleh orang tak dikenal. Cipratan air keras tersebut mengenai muka dan matanya. Teror tersebut tak membuat gentar Novel. Ia pun menyadari risiko pekerjaannya dan justru ia semakin yakin akan pekerjaanya membongkar kasus korupsi adalah bagian jalan hidupnya.

0 Comments

Post a Comment