Sejarah Serie A


Kompetisi terstruktur di Italia muncul pada 1929. Namun, perjalanan menuju penyempurnaan kompetisi telah dimulai puluhan tahun sebelumnya. Kompetisi pertama di Italia dimulai oleh para imigran asal Inggris pada tahun 1890-an. Klub pertama yang berdiri: Genoa Cricket and Athletic Club.

Pada Maret 1898, Asosiasi SepakBola Italia didirikan di Turin dengan nama Federazione Italiana del Football (FIF) - sekarang Federazione Italiana Giuoco Calcio (FIGC). Hanya ada 4 klub yang pertama kali bergabung dengan FIGC, yaitu Genoa, FC Torinese, Internazionale di Torino, dan Società Ginnastica di Torino.

Meski hanya dengan 4 klub, kompetisi tetap dilakukan. Kejuaraan pertama dilakukan di Turin hanya dalam 1 hari, tepatnya pada 8 Mei 1898. Hasil kejuaraan pertama kali, dibabak awal Inter Torino 1-0 FC Torinese, Ginnastica Torino 1-2 Genoa. Kejuaraan ini dimenangan Genoa setelah mengalahkan Inter Torino 2-1 di final.

Format kompetisi kala itu unik, dimana juara bertahan otomatis ke final di tahun berikutnya. Tapi format demikian hanya berlangsung hingga 1904. Usai menang 3 tahun berturut-turut, dominasi Genoa runtuh sejenak. Milan Foot-Ball & Cricket Club yang kelak dikenal AC Milan mebungkam Genoa 3-0 di final 1901. Milan sendiri lolos ke final setelah mengalahkan Mediolanum (2-0) & Juventus (5-0) di semifinal.

Pada tahun 1904, Richardson Spensley, kiper & pelatih Genoa asal Inggris, salahsatu penggagas terselenggaranya Liga Italia pertama kali di tahun 1898 menyumbang sebuah piala yang di beri nama Coppa Spensley, kepada Federasi Sepakbola Italia untuk di pakai sebagai Piala bagi juara Liga Italia, menggantikan trophy sebelum nya yang telah menjadi milik Genoa selamanya karena telah juara sebanyak 3 kali secara berturut-turut.

Kompetisi Italia pada 1904, berganti nama menjadi 'Prima Categoria'. Genoa kembali menjadi Juara setelarh mengalahkan Juventus 1-0 di final. FIGC memutuskan bergabung ke FIFA pada 1905. Hal ini membuat kompetisi yang telah ada masuk ke dalam struktur liga, berdasarkan region. Juara bertahan pun tidak lagi seenaknya lolos langsung ke final. Tahun kompetisi 1905, terdiri dari 3 grup babak kualifikasi daerah/regional. Genoa dan Andrea Doria tergabung di grup daerah Liguria, Milanese dan Milan di Lombardia, Juventus dan FC Torinese tergabung di grup Piemonte, Juventus dinyatakan lolos otomatis ke final setelah Torinese mengundurkan diri dari kejuaraan.

Pemenang dari tiap grup akan saling bertemu di putaran final dengan sistem kandang-tandang. Juventus juara usai mengumpulkan 6 poin. Tiap kemenangan 2 poin, imbang 1 poin. AC Milan kembali meraih Scudetto pada 1906 (Menang 2-0 vs Juventus di final) dan pada 1907 (unggul atas Torino & Andrea Doria di final)

Dekade pertama berakhir, sepakbola Italia mengalami perubahan besar. Federasi berencana memisahkan kejuaraan, seiring meningkatnya pemain asing. Klub besar kala itu semacam Torino, Milan, Libertas, Genoa, Naples FBC, menentang rencana Federasi memisahkan kejuaraan untuk tim yang dihuni pemain asing. 20 Oktober 1907, FIGC menggelar pertemuan. Delegasi Torino, Milan, Libertas, Genoa, Naples FBC tak hadir untuk memberikan suara sebagai bentuk protes.

FIGC memutuskan pada 1908 akan terdapat dua kejuaraan, yakni Kejuaraan Federal (Campionato Federale) & Kejuaraan Italia (Campionato Italiano). Kejuaraan Federal sebagai wadah untuk pemain asing untuk berkompetisi. Sedangkan Kejuaraan Italiano khusus pemain asli Italia saja. Torino, Genoa, Milan & tim lainnya memilih absen dalam kompetisi yang gulirkan Federasi pada 1908. Baik kompetisi Federal maupun Italiano Juara Campionato Federale akan mendapat Piala Spensley. Sedangkan juara Campionato Italiano akan mndapatkan Piala Buni (Romolo Buni adalah pendiri dan Presiden klub US Milanese).

Kejuaraan Federal bergulir pada bulan Januari & Februari 1908 sedangkan 'Italiano' berlangsung antara Maret hingga Mei 1908. AC Milan awalnya mendaftar di kompetisi Federal. Tapi, beberapa hari jelang kompetisi dimulai. Milan umumkan pengunduran diri dari kompetisi.

Alhasil, di putaran final kejuaraan Federal hanya terdiri dua tim saja yakni Juventus (wakil Piemonte) dan Andrea Doria (wakil Liguria). Juventus pun keluar sebagai pemenang Kejuaraan Federal 1908 setelah unggul selisih gol 3-1 atas Andrea Doria diputaran final.

Otomatis Juventus berhak atas Coppa Spensley alias trofi untuk tim yang memenangkan Kejuaraan Federal yang saat itu sedang dipegang Milan (Juara 1906 & 1907). Merasa 'tak dikalahkan' oleh Juventus, Milan menolak memberikan Coppa Spensley kepada Juventus dan menganggap kualitas kompetisi rendah. Akibat berbagai peristiwa di tahun itu pula Milan pecah. Sampai akhirnya 9 Maret 1908, orang-orang pro asing ditubuh Rossoneri mendirikan Internazionale Milan.

Sementara di Kejuaraan Italiano, dari empat laga yang dilakoni, Pro Vercelli membungkus 6 poin, Milanese (5), Doria (1). Pro Vercelli pun menggaet trofi Romolo Bun Akhir musim 1908 Milan kembali baikan dengan Federasi. Hasil pertemuan pada 8 November 1908, Milan ditetapkan sebagai pemegang permanen Coppa Spensley. Juventus yang menjuarai Kompetisi Federal 1908, tak diakui oleh FIGC karena menganggap kualitas kompetisi yang sangat rendah (hanya terdiri dua tim). Pro Vercelli (Juara Italiano) yang dianggap sebagai Scudetto yang sah hingga kini. Tahun 1909 Kompetisi Italia masih dengan dua kejuaraan. Juventus, Torino, Pro Vercelli, Andrea Doria, Genoa dan Milanese ikut keduanya. Coppa Zaccaria Oberti (presiden Andrea Doria) menjadi trofi pengganti utk tim yang menjuarai Federal 1909, menyusul Coppa Spensley yang ditetapkan permanen untuk Milan.


Ada pendatang baru di kejuaraan Federal 1909, yakni Internazionale Milano - tim yg 'bercerai' dari AC Milan. Selain itu, ada juga Venezia. Pro Vercelli keluar sebagai pemenang Kejuaraan Federal pada 1909 setelah sukses membungkam US Milanese dengan agregat 4-2 di final. Sedangakan Peserta Italiano 1909: Andrea Doria, Genoa , Juventus, Pro Vercelli, Piemonte FC, Torino, US Milanese, AC Milan, Vicenza.

Juventus sukses jadi pemenang Kejuaraan Italiano 1909 setelah di final menggebuk US Milanese dengan agregat 3-2. (JUV 1-1 USM, USM 1-2 JUV) Anehnya, Juventus yang memenangkan kejuaraan Italiano 1909 tak dianggap Scudetto. Kejuaraan yg diakui hingga kini oleh FIGC sebagai Scudetto pada 1909 adalah hanya Kejuaraan Federal yang dimenangkan Pro Vercelli. Tahun 2003 surat kabar Tuttosport yang berbasis di Turin bahkan sempat menggelar kampanye agar FIGC mengakui dua gelar yang telah dimenangkan Juventus pada 1908 & 1909 12 Tahun sudah kompetisi Italia bergulir. Pada Agustus 1909, Pertemuan Tahunan Federasi diadakan di Milan untuk menyusun format baru kompetisi Hasilnya, FIGC menyatukan kompetisi pada musim 1909/1910. Diadopsi dari divisi utama Inggris, semua tim akan saling berpapasan home-away.

Dualisme kompetisi yang dibuat FIGC seperti belum benar-benar dihapus. Pasalnya, diakhir musim akan ditetapkan dua juara. Kejuaraan sepakbola Italia yg pertama kalinya digelar dalam satu putaran itu dimulai 7 November 1909. Pro Vercelli tampil sebagai favorit Juara Klasemen 1909/10: Inter (25 poin), ProVercelli (25), Juve (18), Torino (17), Genoa (17), Milanese (13), AC Milan (13), Doria (11), Ausonia (5). Pro Vercelli, Milanese, Andrea Doria & Ausonia adalah tim yang semua skuatnya 'Asli Italia'. Sedangkan klub lainnya memiliki pemain asing. Pro Vercelli dan Inter mengumpulkan poin sama (25 poin) dari 16 laga (Menang 12, Imbang 1, Kalah 3). Sehingga diperlukan Play-off utk menentukan yang terbaik. Pro Vercelli sendiri unggul selisih gol. Meski diawal ditetapkan akan ada dua Juara, kenyataannya cuma satu yang dianggap Scudetto yakni Inter yang juara Federal & kebetulan memenang play-off. Dalam laga play-off tersebut, Inter bisa dibilang beruntung. Pasalnya, Pro Vercelli hanya menurunkan skuat yang masih bocah, umurnya antara 11-15 tahun. Menurut laporan pers Italia, Pro Vercelli menurunkan skuat bocah sebagai bentuk protes terkait penetapan jadwal play-off oleh Federasi. Pro Vercelli tidak bisa memenuhi tanggal yang di tetapkan FIGC pada 24 april 1910 untuk menggelar play-off menghadapi Inter karena beberapa alasan. Awalnya, laga play-off akan berlangsung pada 17 april 1910. Tapi, Pro Vercelli meminta penundaan karena mempunyai agenda di sebuah turnamen.


FIGC akhirnya mengabulkan permintaan Pro Vercelli dan menetapkan pertandingan play-off digelar seminggu kemudian tepatnya pada 24 April 1910 Tapi lagi-lagi Pro Vercelli meminta FIGC untuk memundurkan jadwal lagi. Kali ini alasannya karena beberapa pemain utama mereka mengalami cedera. Pro Vercelli sendiri meminta pertadingan Play-off di gelar pada 1 Mei 1910. Tapi, kali ini FIGC ogah mengabulkan permintaan trsebut  FIGC tetap menggelar laga play-off pada 24 April 1910 juga karena penolakan dari Internazionale yang ogah menunda pertandingan lebih lanjut.


Pro Vercelli awalnya yakin dengan menurunkan skuat bocahnya, Inter tak akan meladeninya sehingga FIGC akan menunda partai Play-off tersebut. Yang terjadi malah diluar dugaan. Inter tetap meladeni skuat bocah Vercelli dengan dalih mnghormati keputusan FIGC (menggelar laga di tanggal itu). Hasilnya, Inter sukses melibas kawanan bocah Pro Vercelli yang di kapteni pemain usia 11 tahun dengan skor telak 10-3! Menurunkan skuat bocah, Pro Vercelli bahkan dianggap 'tidak sportif'. Federasi pun sempat mengancam akan memberikan sanksi berat, tapi kmudian diberi keringanan. Inter meraih gelar pertama di tahun 1910. Sisi negatifnya, terus mendapat perspektif yang buruk dari publik kota Vercelli hingga puluhan tahun

Format kompetisi musim 1910/1911 kembali berubah. Kali ini terbagi menjadi dua grup. Penghuni teratas dari masing-masing grup akan lolos ke final. Pro Vercelli segera membayar kegagalan atas Inter pada 1910 dgn memenangkan 3 Scudetto secara beruntun musim berikutnya (1911, 1912, 1913). Pro Vercelli keluar sebagai juara pada musim 1910/11 usai menang agregat 5-1 atas Vicenza di final (Leg 1: PRO 3-0 VIC, Leg 2: VIC 1-2 PRO)

Sedangkan pada musim 1911/1912, Pro Vercelli memboyong Scudetto setelah sukses membantai Venezia dengan agregat amat telak ,13-0 di final. Adapun pada 1913, Pro Vercelli membungkus Scudetto usai menaklukan tim debutan Lazio di final dengan skor telak 6-0. Musim 1913/1914 Casale merebut Scudetto dari tangan Pro Vercelli. Casale menang atas Lazio dua leg, dengan agregat telak 9-1 di final.

Musim 1914/15 jumlah klub kian berserakan membuat kompetisi tak teratur & tak seimbang. Ditambah lagi suasana Perang Dunia I sudah terasa. Kompetisi musim 1914/15 sebenarnya juga tidak selesai. Akan tetapi, Genoa dinobatkan sebagai juara setelah jadi yg terbaik di wilayah Utara.

Perang Dunia I, kejuaraan resmi Italia dari 1916 sampai 1919 tak diselenggarakan. Tetapi sebagian tim menggelar kejuaraan tingkat regional. Setelah sempat terganggu Perang Dunia I, popularitas sepak bola kembali bertumbuh. Dampaknya, lebih banyak lagi klub yang memutuskan untuk bergabung. Musim 1919/20 Inter meraih Scudetto keduanya setelah mengalahkan Livorno di partai puncak dengan skor 3-2 yang berlangsung di Bologna.

Musin 1920/1921, peserta kompetisi membludak. Pada musim tersebut ada total 88 klub peserta, Terbanyak sepanjang sejarah kompetisi sepakbola Italia Pro Vercelli kembali menjadi juara setelah menang di partai final atas AC Pisa dengan skor 2-1, yang digelar di kota Turin.

Semakin membludaknya peserta dari tahun ke tahun dan tanpa adanya sistem degradasi membuat sistem & format komeptisi semakin rumit & tidak teratur. Pada akhir musim 1920-1921, ada permintaan dan usul dari klub-klub besar untuk mengurangi jumlah peserta dengan sistem degradasi.

Klub kecil yang memiliki suara mayoritas tidak setuju dengan usulan tersebut. FIGC pun akan tetap menggelar kompetisi seperti sedia kalanya yang membuat klub-klub besar nekat membentuk organisasi tandingan bernama CCI (Confederazione Calcistica Italiana) sekaligus dengan kompetisinya.

Pada akhir musim 1921/1922, Novese juara di kompetisi yang digelar FIGC. Sedangkan di CCI, Pro Vercelli adalah juaranya. Setelah kedua Federasi kembali rujuk, status juara baik di kompetisi FIGC maupun CCI musim 1921/1922 dianggap resmi sebagai Scudetto. Musim 1922/1923 FIGC pun mulai memberlakukan sistem degradasi untuk sementtara masih sebatas degradasi di tiap wilayah atau grup saja. Setelah melalui perumusan yang panjang & alot dari tahun ke tahun, akhirnya pada musim 1929/1930, diterapkan lah format baru bernama Serie A. Pada musim transisi 1928/1929, ketika itu kompetisi bernama Divisione Nazionale, dibagi menjadi dua grup yang diisi masing-masing 16 tim.

Prestasi Awal

Skuad Italia di Piala Dunia 1934

Tim nasional Italia pertama kali mencuat secara internasional pada tahun 1934 seiring dengan gelaran Piala Dunia yang diadakan di sana. Italia, yang saat itu di bawah komando Benito Mussolini berhasil meraih trofi mereka dengan bantuan beberapa Oriundi, atau pemain keturunan Italia yang pernah membela negara lain, terutama Argentina ada yang unik di Tim Italia yaitu 9 dari 11 pemain yang membela Gli Azzuri berasal dari klub Juventus seperti Giampiero Combi, Virginio Rosetta, Luigi Bertolini, Felice Borel, Umberto Caligaris, Giovanni Ferrari, Luis Monti, Raimundo Orsi dan Mario Varglien.

Empat tahun berselang Italia berhasil mempertahankan gelar dalam hajatan yang diadakan di Perancis. Sukses beruntun Italia tersebut tak lepas dari peran pelatih Vitorio Pozzo dan kapten tim Guiseppe Meazza. Sayangnya, Perang Dunia II memupus harapan Italia untuk mencetak hattrick setelah dibatalkannya Piala Dunia 1942. Menjelang Piala Dunia 1950, Italia mempunyai tim yang dihormati di kancah Eropa, di mana mayoritas pemainnya berasal dari klub Torino dengan bintangnya Valentino Mazzola. Sayangnya, sebuah kecelakaan pesawat merampas nyawa seluruh punggawa klub Torino, yang juga berarti mengurangi kekuatan Italia secara signifikan di ajang Piala Dunia yang digelar di Brazil pada 1950.

Trofi Eropa

"Battle of Santiago" di Piala Dunia 1962 di Cili

Selepas tragedi tersebut, Italia tidak pernah berprestasi maksimal. Beberapa ajang Piala Dunia bahkan mencatat sejarah buruk Azzurri, di antaranya yang dikenal dengan "Battle of Santiago" pada Piala Dunia 1962 di Cili. Partai antara tuan rumah Cili dan Italia tersebut dikenang sebagai salah satu partai terbrutal dalam sejarah Piala Dunia menyusul banyaknya insiden antar pemain. Kekalahan memalukan selanjutnya adalah ketika Italia tersisih di tangan wakil Asia, Korea Utara di ajang Piala Dunia 1966 di Inggris.

Baru pada 1968, melalui pemain seperti Sandro Mazzola (putra dari Valentino Mazzola), Luigi Riva dan Omar Sivori, Italia merebut gelar prestisus Kejuaraan Eropa setelah mengalahkan Yugoslavia dalam partai puncak. Keberuntungan menaungi Italia ketika di semifinal mereka menyisihkan tim kuat Uni Sovyet melalui undian koin!

Tim yang memenangi Euro 1968 tersebut dipertahankan pada Piala Dunia 1970 di Meksiko. Italia melaju ke final setelah melewati partai yang dikenang sebagai pertandingan terbaik sepanjang masa oleh World Soccer melawan Jerman Barat yang dimenangi Italia dengan skor 4-3 setelah melewati dua kali perpanjangan waktu. Di final, Italia takluk di tangan tim Samba, Brasil, yang diperkuat bintang seperti Pele, Carlos Alberto dan sebagainya.

Sepanjang dekade 70-an, Italia hampa gelar. Satu-satunya prestasi terbaik setelah 1970 adalah tampilnya Italia di semifinal Piala Dunia 1978 di Argentina. Saat itu Italia dilatih oleh Enzo Bearzot dan masih menampilkan Dino Zoff, kiper yang merebut gelar Euro 1968 sebagai penjaga gawang utama.

Era Enzo Bearzot

Menyongsong Piala Dunia 1982 yang digelar di Spanyol, kesebelasan Italia diguncang skandal setelah beberapa pemain dan klub lokal terlibat judi totonero. Di antara pemain yang terhukum adalah striker Paolo Rossi yang juga tampil di Argentina 78. Meski tidak banyak bermain di kompetisi akibat hukuman, Bearzot tetap memanggil Rossi sebagai salah satu pemain di Piala Dunia 1982. Bearzot juga masih mempertahankan Dino Zoff sebagai penjaga gawang, yang sekaligus mengukir rekor pemain tertua yang berlaga di Piala Dunia dengan usia lebih dari 40 tahun.

Italia memulai Piala Dunia dengan tidak meyakinkan setelah hanya lolos dari penyisihan Grup 1 dengan modal 3 kali seri. Di pertandingan pertama, kekuatan baru Eropa saat itu, Polandia berhasil menahan seri Italia. Tetapi, melawan tim yang dianggap kelas dua, Peru, Italia kembali hanya bisa memaksakan hasil imbang. Gol Bruno Conti dibalas Peru tujuh menit jelang pertandingan usai. Pertandingan selanjutnya lebih parah. Melawan Kamerun, yang notabene merupakan debutan di Piala Dunia, lagi-lagi Italia bermain seri 1-1. Gol dicetak oleh Francesco Graziani, striker Fiorentina pada saat itu. Mengumpulkan nilai 3 dari tiga kali imbang, poin Italia disamai oleh Kamerun. Italia beruntung punya tabungan mencetak gol yang lebih banyak daripada Kamerun.

Di babak selanjutnya, Italia tergabung bersama Grup C, grup maut yang dihuni oleh juara bertahan Argentina dan tim kuat Brasil yang diperkuat pemain handal macam Socrates dan Falcao. Italia beruntung bisa mengalahkan Argentina dengan skor 2-1. Dua gol dicetak oleh gelandang Marco Tardelli dan Antiono Cabrini. Hal itu memicu kecaman terhadap taktik Bearzot, dan stok penyerang yang dibawanya. Bearzot menerapkan taktik catenaccio, mengutamakan pertahanan yang ketat. Salah satu episode terkenal adalah penjagaan ekstraketat dari Claudio Gentile terhadap bintang Argentina, Diego Maradona.

Sebagai respon terhadap kritik, Paolo Rossi yang masuk tim secara kontroversial memperlihatkan ketajamannya, di antaranya menjebol tiga kali gawang Brazil di pertandingan kedua Grup C. Rossi membobol gawang Brazil dari menit ke-5, dan disamakan oleh Socrates pada menit ke-12. Rossi membawa Italia unggul sampai babak pertama berakhir ketika pada menit ke-25 dia mencetak gol keduanya di turnamen. Brazil membalas di babak kedua, dengan Falcao memjebol gawang Dino Zoff di menit 68. Selang 6 menit kemudian, Rossi melengkapi hattricknya dan membawa Italia unggul sampai pertandingan selesai. Kemenangan 3-2 itu membawa Italia memuncaki grup dan kembali menantang Polandia di semifinal.

Duel di semifinal yang merupakan ulangan duel di awal turnamen berhasil dimenangi Italia 2-0. Paolo Rossi mencetak gol keempat dan kelimanya di turnamen dengan memborong dua gol atas Polandia yang di antaranya diperkuat Zbigniew Boniek. Di lain pihak, Jerman Barat sukses menghempaskan Perancis lewat adu pinalti setelah skor imbang 3-3. Dua partai semifinal menghasilkan pertemuan klasik antara Jerman Barat dan Italia, ulangan semifinal Piala Dunia 1970 yang seru.

Duel antar juara dua kali Piala Dunia tersebut berakhir dengan kemenangan Azzurri. Magi Rossi kembali membawa tuah bagi Italia ketika dia mencetak gol keenam di turnamen ini sekaligus membuka skor. Marco Tardelli menambah keunggulan Italia, yang dilengkapi dengan gedoran Alessandro Altobelli untuk membawa negeri spaghetti itu memimpin 3 gol. Jerman hanya memperkecil kedudukan melalui satu gol Paul Breitner. Hasil akhir 3-1 untuk kemenangan Italia. Itu menjadi titel dunia ketiga bagi Italia sekaligus menyamai raihan titel Brasil. Paolo Rossi tampil sebagai pemain terbaik turnamen dan meraih sepatu emas dengan 6 gol-nya.

Ironisnya, Italia justru tidak lolos ke putaran final Euro 1984, meski masih bermaterikan tim juara dunia dan pelatih Enzo Bearzot. Prestasi Italia juga tidak meyakinkan selama sisa dekade 80-an, dan baru bangkit pada 1990 ketika mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia. Italia terhenti di semifinal oleh Argentina bersama Diego Maradona, yang merupakan juara bertahan, dalam drama adu pinalti. Di playoff, Italia berhasil mengalahkan Inggris dan merebut gelar hiburan sebagai peringkat ketiga.

Skuad Italia di Piala Dunia 1982


Penjaga Gawang: Dino Zoff (Juventus), Ivano Bordon (Inter Milan), Giovanni Galli (Fiorentina)

Belakang: Franco Baresi (AC Milan), Guiseppe Bergomi (Inter Milan), Antonio Cabrini (Juventus), Fluvio Collovati (AC Milan), Claudio Gentile (Juventus), Gaetano Scirea (Juventus), Pietro Vierchowod (Fiorentina)

Gelandang: Giancarlo Antognoni (Fiorentina), Guiseppe Dossena (Torino), Giampiero Marini (Inter Milan), Gabriele Oriali (Inter Milan), Marco Tardelli (Juventus), Franco Causio (Udinese), Bruno Conti (AS Roma)

Penyerang: Daniele Massaro (Fiorentina), Alessandro Altobelli (Inter Milan), Francesco Graziani (Fiorentina), Paolo Rossi (Juventus), Franco Selvaggi (Cagliari)

Pelatih: Enzo Bearzot


Dekade 90-an

Pada 1994, Italia yang diperkuat bintang Juventus, Roberto Baggio dan beberapa pemain AC Milan berhasil melaju sampai final menghadapi Brasil. Baggio menjadi bintang ketika mencetak rangkaian gol penentu menuju final. Sayangnya, justru Baggio pula yang menjadi biang kekalahan Italia ketika dirinya gagal mencetak gol dalam drama adu pinalti. Selain Baggio, kapten Italia dan AC Milan, Franco Baresi juga gagal. Raihan Italia kembali disalip oleh Brasil dengan empat titel.

Tahun 1996 dan 1998 adalah catatan kegagalan Italia, masing-masing di Euro 96 (yang digelar di Inggris) dan Perancis 98. Italia tersisih di penyisihan grup setelah kalah dalam selisih gol dengan Republik Ceko. Di Piala Dunia 1998, Italia gagal di tangan Perancis melalui adu pinalti. Perancis kemudian meraih gelar juara Piala Dunia.

Duel antara Italia dan Perancis kembali berulang di final Piala Eropa 2000 yang digelar di Belanda-Belgia. Di final, Italia unggul 1-0 sampai menit terakhir injury time ketika penyerang Perancis Sylvain Wiltord membawa malapetaka dengan membobol gawang kiper Italia Francesco Toldo untuk memaksakan perpanjangan waktu. Di babak perpanjangan waktu, David Trezeguet berhasil mencetak gol untuk Perancis. Saat itu sistem permainan menggunakan sistem Sudden Death, sehingga Italia dipastikan kalah di final. Kekalahan tragis itu membayangi Italia di Piala Dunia 2002 setelah mereka dipukul oleh tuan rumah Korea Selatan. Pasca kekalahan di Piala Dunia 2002, kapten Paolo Maldini mengundurkan diri sekaligus mengukir rekor sebagai pemain dengan 126 caps, terbanyak sepanjang masa.

Drama berlanjut di Piala Eropa 2004. Pelatih Giovanni Trapattoni yang juga menangani Azzurri di Jepang-Korea 2002 gagal membawa Italia lolos penyisihan setelah hanya mengumpulkan nilai 5 dari tiga kali bertanding. Dua tim Skandinavia, Swedia dan Denmark menyisihkan Italia melalui hitung-hitungan selisih gol yang rumit. Kegagalan itu mengakibatkan Trapattoni mundur dan digantikan oleh Marcello Lippi.

Piala Dunia 2006

Pelatih Marcello Lippi membawa Italia lolos ke Piala Dunia 2006 yang digelar di Jerman. Italia lolos ke Jerman setelah menjuarai grup dalam Kualifikasi Piala Dunia, dan kemudian tergabung dalam Grup E bersama Republik Ceko, Amerika Serikat dan Ghana. Sebelum Piala Dunia, skandal kembali marak ketika dakwaan terhadap beberapa klub yang mengguncang persepak bolaan Italia digulirkan. Kasus yang populer dengan istilah calciopoli tersebut menyita konsentrasi sejumlah pemain Italia yang klubnya terlibat.

Pada pertandingan pertama, Italia berhasil mengatasi Ghana dengan skor 2-0. Andrea Pirlo dan Vincenzo Iaquinta mencetak gol-gol untuk Italia. Di pertandingan kedua, Italia bermain imbang dengan Amerika Serikat, 1-1. Alberto Gilardino mencetak gol untuk Italia sebelum Cristian Zaccardo membuat gol bunuh diri untuk membuat pertandingan imbang. Pertandingan penentuan melawan Republik Ceko berhasil dimenangkan ketika Marco Materazzi dan Filippo Inzaghi mencetak dua gol kemenangan Italia sekaligus meloloskan tim Azzurri ke babak selanjutnya.

Di fase knock-out, Italia bertemu dengan Australia yang keluar sebagai runner up Grup F. Pertandingan dimenangkan pada menit terakhir ketika Francesco Totti berhasil mengeksekusi pinalti yang diberikan wasit akibat pelanggaran kepada bek Fabio Grosso oleh pemain Australia. Di perempat final, Italia menyisihkan Ukraina dengan skor 3-0. Luca Toni membuat dua gol, dan satu tambahan gol dari Gianluca Zambrotta membuat Italia melenggang ke semi final untuk pertama kalinya sejak 1994. Di semifinal, tuan rumah Jerman menantang Italia. Dalam pertandingan yang diadakan di Dortmund, kedua tim bermain terbuka dan atraktif sehingga banyak disebut sebagai pertandingan terbaik Piala Dunia. Italia mengulangi memori drama perpanjangan waktu Piala Dunia 1970, ketika jelang usai perpanjangan waktu kedua, Fabio Grosso mencetak gol mematikan dari dalam kotak pinalti. Alessandro Del Piero menyempurnakan malam untuk Italia sekaligus mengirim Jerman ke playoff tempat ketiga. Di final, Italia menghadapi Perancis yang lolos setelah menyingkirkan favorit Brasil dan Portugal.

Final Piala Dunia 2006 berlangsung di Berlin. Perancis memimpin terlebih dahulu melalui pinaltiZinedine Zidane setelah Florent Malouda terganjal Marco Materazzi. Tak lama kemudian, Materazzi membalas dengan mencetak gol sundulan menyambut tendangan pojok Andrea Pirlo. Materazzi pula yang menjadi aktor terusirnya bintang Perancis, Zidane, setelah dirinya ditanduk. Sampai berakhirnya dua kali perpanjangan waktu, kedua tim gagal mencetak gol dan pertandingan dilanjutkan dengan adu tendangan pinalti. Kelima eksekutor Italia berhasil menyarangkan gol, sementara David Trezeguet gagal mencetak gol untuk Perancis. Italia akhirnya menjadi juara dunia untuk keempat kalinya. Italia mencatat hanya dua kali kebobolan, satu melalui gol bunuh diri Zaccardo, dan satu melalui pinalti Zidane. Hasil itu membuktikan bahwa pertahanan masih menjadi tradisi Italia sesuai dengan pakem catenaccio yang mereka anut.

Skuad Italia di Piala Dunia 2006:


Penjaga gawang: 1 Gianluigi Buffon (Juventus) 12 Angelo Peruzzi (SS Lazio) 14 Marco Amelia (AS Livorno)

Belakang: 2 Christian Zaccardo (US Palermo) 3 Fabio Grosso (US Palermo) 5 Fabio Cannavaro (Juventus Turin) 6 Andrea Barzagli (US Palermo) 13 Alessandro Nesta (AC Milan) 19 Gianluca Zambrotta (Juventus Turin) 22 Massimo Oddo (Lazio) 23 Marco Materazzi (Inter Milan)

Tengah: 4 Daniele De Rossi (AS Roma) 8 Gennaro Gattuso (AC Milan) 10 Francesco Totti (AS Roma) 16 Mauro Camoranesi (Juventus Turin) 17 Simone Barone (US Palermo) 20 Simone Perrotta (AS Roma) 21 Andrea Pirlo (AC Milan)

Depan: 7 Alessandro Del Piero (Juventus Turin) 9 Luca Toni (Fiorentina) 11 Alberto Gilardino (AC Milan) 15 Vincenzo Iaquinta (Udinese) 18 Filippo Inzaghi (AC Milan)

Pelatih: Marcello Lippi


Paska Piala Dunia 2006

Setelah kemenangan di Piala Dunia, Marcello Lippi mengumumkan pengunduran dirinya. Roberto Donadoni, mantan pemain AC Milan dan pelatih klub Livorno ditunjuk sebagai pengganti Lippi. Pengunduran Lippi rupanya juga diikuti mundurnya dua pilar Azzurri di masa Lippi, Francesco Totti dan Alessandro Nesta. Hal itu menambah berat beban Donadoni untuk meloloskan Italia ke putaran final Euro 2008 di Swiss-Austria. Meski dengan awalan yang kurang sempurna, Italia akhirnya berhasil memastikan lolos ke putaran final Euro 2008 setelah memenangi laga melawan Skotlandia.

Di putaran final, Italia tergabung di Grup C bersama dua kandidat juara lainnya, Belanda dan Perancis, plus kuda hitam Rumania. Pada pertandingan pertama, Italia takluk 0-3 dari Belanda. Selanjutnya Italia ditahan Rumania 1-1 dan mengalahkan Perancis 2-0 untuk melaju ke perempat final melawan juara Grup D, Spanyol. Italia akhirnya tersingkir lewat drama adu penalti, setelah skor 0-0 bertahan hingga usai dua kali perpanjangan waktu. Spanyol yang mengalahkan Italia, akhirnya menjadi juara Piala Eropa 2008.

Buntut dari kegagalan di Piala Eropa 2008 adalah dengan dipecatnya pelatih Roberto Donadoni oleh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). FIGC kemudian menunjuk kembali mantan pelatih tim nasional Italia di Piala Dunia 2006, Marcello Lippi, untuk menangani Italia di kualifikasi Piala Dunia 2010.


Dengan klasemen akhir sebagai berikut:

Grup A:


1. Torino 48

2. Milan 42

3. Roma 40

4. Alessandria 40

5. Pro Patria 36

6. Modena 35

7. Livorno 32

8. Padova 30

9. Triestina 29

10. Casale 23

11. La Dominante 23

12. Novara 23

13. Bari 22

14. Atalanta 20

15. Prato 19

16. Legnano 18


Grup B:


1. Bologna 49

2. Juventus 41

3. Brescia 41

4. Genova 39

5. Pro Vercelli 38

6. Ambrosiana 37

7. Cremonese 33

8. Lazio 29

9. Napoli 29

10. Biellese 27

11. Venezia 26

12.Pistoiese 25

13. Verona 25

14. Fiumana 16

15. Reggiana 13

16. Fiorentina 12

Dari tiap grup, tim peringkat 1-8 akan masuk ke Serie A musim 1929/30, sedangkan peringkat 10-14 akan bermain di Serie B, adapun dua tim terbawah akan terdepak ke Prima Divisione. Namun karena beberapa alasan dan terjadi penambahan kuota menjadi 18 tim di musim perdana Serie A nantinya. Triestina yang awalnya akan masuk ke Serie B musim depan masih akan tetap di kasta tertinggi begitu juga Lazio dan Napoli yang bertarung di play-off, keduanya akan bermain di Serie A. Prato, Legnano, Reggiana dan Fiorentina yang tadinya akan terlempar ke kasta ketiga pun ditetapkan ke Serie B musim 1929/1930.

Adapun Scudetto 1928/1929 dimenangkan oleh Bologna setelah sukses menghantam juara grup A, Torino. Leg pertama menang dikandang (3-1), Leg kedua kalah di Turin (0-1) dan memenangkan play-off di Roma (1-0)

 Kompetisi dengan struktur tunggal akhirnya hadir dengan 18 tim. Yang dimenangkan Inter. Padova & Cremonese yang pertama kali degradasi.

Berikut Klasemen Akhir Serie A 1929/1930:

1 Ambrosiana 50 poin

2 Genova 48

3 Juventus 45

4 Torino 39

5 Napoli 37

6 Roma 36

6 Bologna 36

6 Alessandria 36

9 Pro Vercelli 33

9 Brescia 33

11 Milan 32

12 Modena 30

12 Pro Patria 30

14 Livorno 29

15 Lazio 28

15 Triestina 28

17 Padova 26

18 Cremonese 16


Referensi


https://ligaitaliaseriea.blogspot.com/p/sejarah-serie-a.html

0 Comments

Post a Comment