Biografi Wishnutama Kusubandio, CEO PT NET Mediatama Indonesia



Wishnutama Kusubandio (lahir 4 Mei 1976; umur 39 tahun) adalah salah satu pendiri PT. Net Mediatama atau dikenal dengan NET.. Menyelesaikan kuliah komunikasi di Mount Ida College Boston, Amerika Serikat, namun lebih banyak mendapatkan ilmu pertelevisian dari Emerson College, Boston. Ia memulai karier dari bawah sebagai Production Assistant di New England Cable News Amerika Serikat dan menjadi Assistant Director On Air Promotion di WHDH-TV, Boston. Wishnu juga pernah mengenyam pendidikan di The Military College of Vermont, Norwich University.

Pada tahun 1994, ia pulang ke Indonesia dan bekerja di Indosiar sebagai Supervisor On Air Promotion. Setahun kemudian pindah ke divisi produksi sebagai Producer Director. Kariernya berkembang menjadi Executive Producer News and Production Division, dan tak berapa lama kemudian meningkat menjadi Production Manager. Program-program yang dilahirkan selama di Indosiar antara lain Pesta, Gebyar BCA, Patroli dan Saksi.

Kepala Produksi dan Produser Eksekutif Berita Indosiar (1994-2001)

Direktur Pemrograman dan Operasional Penyiaran Trans TV dan Trans 7 (2006-2012)

Direktur Utama Trans7 (2006-2008)

Direktur Utama Trans TV (2008-2012)

Direktur detik.com (2010-2012)

Komisaris Utama Parc19 (2012-sekarang)

Direktur Utama NET. (2013-sekarang)

Tahun 2001, Ia pindah ke Trans TV menjadi Kepala Divisi Produksi. Tiga tahun kemudian, kariernya menanjak menjadi Direktur Operasional, dan setahun berikutnya menjadi Wakil Direktur Utama. Pada saat pengambilan saham mayoritas TV7 oleh kelompok usaha Para Group pada tahun 2006, ia ditunjuk menjadi Direktur Utama TV7 yang kemudian berubah nama menjadi Trans7. Dua tahun kemudian, Wishnutama ditunjuk menjadi Direktur Utama Trans TV.

Program-program yang diproduksi di bawah kepemimpinan Wishnutama selama di Trans Corp antara lain Extravaganza, Dunia Lain, Termehek-Mehek, Opera Van Java, Empat Mata, dan Indonesia Mencari Bakat. Penghargaan yang pernah dia raih baik skala nasional maupun Asia, antara lain Asian Television Award dan Panasonic Awards. Ia juga pernah terpilih menjadi The Best CEO in Indonesia 2010 pilihan majalah SWA. Di luar karirnya di dunia broadcasting, Tama masih sempat menyalurkan hobinya di bidang musik dengan membentuk dan menjadi pemain Band Soulful Corp.

Ditanya mengenai rahasianya menghasilkan banyak program menarik yang disukai masyarakat, Mas Tama hanya tersenyum.

"Referensi bisa datang dari mana saja".

"Saya sih biasanya dapat referensi karena nggak sengaja lihat".

"Nggak sengaja liat itu,nggak sengaja liat ini".

"Ya banyak hal,"ungkapnya.

"Saya selalu berusaha yang saya lakukan selalu membawa perubahan, selalu ada inovasi."

"Saya nggak mau melakukan hal yang sama atau yang pernah dilakukan orang lain. Itu saja", sambung ayah dua anak tersebut.

Setelah 11 tahun mengembangkan Trans Corp, terhitung sejak 2001 hingga 2012, Mas Tama memilih untuk mengundurkan diri. Bersama Agus Lasmono, dia membangun stasiun televisi bernamaNET.yang berasal dari singkatan News and Entertainment Television. PendirianNET., menurut penyuka makanan sehat itu, didasari pada program acara di Indonesia yang makin lama semakin tidak seimbang. "Kalau kita lihat sekarang, banyak orang yang mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain. Saya rasanya kok ndak pengen seperti itu", ujarnya. Dia ingin pemirsa memperoleh hal positif. "Sebab, tayangan yang beredar belakangan", menurut dia, kurang berkualitas dantidak membuat orang lebih semangat menjalani hidup.

"Saya pikir, ada kebutuhan pemirsa yang ingin better quality program. Program acara yang punya value, yang punya makna, dan nggak sekadar sensasi", tutur laki-laki berkacamata tersebut. Setahun berjalan bersama bendera NET., Mas Tama merasa senang pada respons masyarakat Indonesia. "Alhamdulillah, baik dan terus meningkat, terutama di kalangan middle up. Tandanya, banyak orang yang nggak pengenmelihat berita sensasi. Bukan sekadar gosip. Karena itu, kami berusaha menghadirkan hiburan yang berkualitas. Misalnya, sitkom yang naskahnya lebih bermutu atau program acara yang nggak sekadar menjual kesulitan", paparnya. Meski demikian, dia menampik bila kesuksesan yang diterima dikatakan hanya karena dirinya.
Menurut pria kelahiran Jayapura, Papua, tersebut, kesuksesan itu diraih lantaran kerja tim. Mengingat, bekerja di balik layar membutuhkan waktu dan tenaga yang melimpah. Bekerja di stasiun televisi sangat menyita waktu karena jam kerjaya kayak gini.Peak hourkita bersamaan dengan saat seluruh keluarga tengah berkumpul. Namanyaprime time, waktu ketika kita paling sibuk-sibuknya, ungkapnya. Tak sekadar menangguk sukses padarating, Wishnutama juga meraih banyak penghargaan selama hampir 20 tahun berkarya. Baik skala nasional maupun tingkat Asia. Di antaranya, The Best CEO in Indonesia 2010 pilihan majalahSWA, Asian Television Award, dan Panasonic Awards.(cik/c14/nda)

0 Comments

Post a Comment