Laura Lazarus Pramugari Yang Selamat Dari Kecelakaan Pesawat


Aku berasal dari sebuah keluarga yang memprihatikankan. Ayahku seorang penjudi, sehingga ibuku yang harus banting tulang demi menghidupi keluargaku. Ibuku berprofesi sebagai penjual kue, aku pun sering membantunya. Ia menjual dagangannya dari rumah ke rumah. Sejak kecil aku merasa tertolak di lingkungan keluargaku, karena pernikahan orang tuaku tidak direstui oleh keluarga pihak ayahku. Bahkan kami tinggal di rumah berukuran 2 x 3 m dengan kondisi yang mengecewakan. Ketikaku masih kanak-kanak, tidak ada figur seorang ayah dalam hidupku. Ia sering berjudi. Jika ada di rumah, ia sering memarahi bahkan menghajarku. Begitu juga dengan ibuku, aku sering menjadi tempat pelampiasan kemarahannya ketika ia memiliki masalah dengan ayah.

Mencoba mengakhiri hidup


Tekanan-tekanan ini menjadikanku seorang pemberontak. Aku tidak mau mendengarkan perkataan ayah dan ibuku. Karena begitu tertekan dengan kehidupan yang kujalani, aku nekat mencoba bunuh diri dengan minum racun serangga, namun tidak berhasil dan aku pun masih dapat diselamatkan setelah dilarikan ke rumah sakit oleh pamanku.

Terjebak pergaulan buruk


Setelah lulus SMU, aku tidak dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena tidak ada biaya. Di usiaku yang ke 17, aku harus mencari pekerjaan. Karena kekurangan figur ayah dari kecil, akhirnya aku mencari figur seorang ayah dari pacarku saat itu. Namun, karena sering ribut, ibuku tidak menyetujui hubunganku dengannya sehingga aku merasa sangat marah dan kabur dari rumah. Aku terjerumus ke dalam jurang dosa. Aku pun mulai mengkonsumsi minuman keras, rokok, bahkan narkoba.

Kesombongan


Tahun 2002, aku mendapat panggilan dari pihak jasa penerbangan komersil, Lion Air, untuk interview. Setelah melalui beberapa rangkaian tes, aku dinyatakan lulus diterima menjadi seorang pramugari. Sejak saat itu kehidupanku mulai membaik dan menjadikanku sombong dengan keberadaanku saat itu. Dengan uang yang aku miliki, aku menggunakan seluruhnya untuk bersenang-senang dan merasakan kehidupan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kurang lebih 2 tahun aku hidup bebas seperti ini.

Bencana Menimpa

Sampai sewaktu ketika di awal November 2004, aku merasa tiba-tiba ingin meninggalkan rumahku. Ketika kukatakan hal ini pada ibuku, ia berkata bahwa ia juga pernah bermimpi melihatku terbaring lemah di ICU dengan darah berlumuran di sekujur tubuhku. Tetapi kami menepis firasat buruk itu. Ketika bertugas hari itu, di dalam pesawat sempat aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku melihat seluruh wajah teman-temanku diliputi kegelapan dan menyeramkan untuk dilihat. Namun lagi-lagi aku mengalihkan pikiranku dari firasat itu. Saat itu cuaca memang tidak baik. Penerbangan kami kali ini disertai dengan goncangan-goncangan kecil, hujan dan suara petir juga terhalang awan-awan tebal.

Braaaakkkkk…..drrrkkkkkkssss…trraaaakkkkk…bunyi disertai dengan goncangan sangat keras ini mengagetkan semua penumpang dalam pesawat. Semua berteriak histeris. Suasana menjadi gelap dan barang-barang berhamburan kemana-mana. Sementara terjadi goncangan itu, aku sempat berteriak : “Tuhan, tolong aku…. Ada apa ini, Tuhan? Apapun yang terjadi, tolong aku, Tuhan…” Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi sampai akhirnya ada seorang bapak yang menemukanku di tumpukan para korban kecelakaan lainnya yang telah meninggal. Kondisiku saat itu sangat mengenaskan sehingga orang-orang mendugaku sebagai korban pramugari lain yang meninggal. Aku pun dilarikan ke rumah sakit dan sempat koma selama 8 hari, sampai akhirnya aku dibawa ke Singapura untuk mendapatkan operasi dan perawatan intensif karena luka serius di wajah dan kaki. Beberapa dokter telah kami datangi, namun semuanya mengatakan aku sulit untuk disembuhkan karena tulang kakiku mengalami pembusukan dan bernanah. Jalan satu-satunya menurut mereka adalah kakiku harus diamputasi. Mendengar hal itu, aku dan ibuku terus membangkitkan iman kepada Tuhan supaya aku tidak menjadi lumpuh karena tidak ada kaki lagi. Tuhan menjawab doa kami, kakiku berhasil sembuh tanpa harus diamputasi.

Rasa senang itu tidak berlangsung lama karena setelah melihat wajahku dicermin, aku berteriak histeris karena seperti melihat wajah monster diwajahku sendiri. Banyak jahitan di sana sini dan tidak enak dipandang. Selama menjalani pengobatan itu, aku mengeluh dan bertanya pada Tuhan, “mengapa ini terjadi padaku.” Aku terus menyalahkan Tuhan dan berpikir bahwa Ia tidak mengasihiku sama sekali. Tiba-tiba aku dipertemukan dengan seorang laki-laki berusia 16 tahun. Ketika ia melihatku, ia tertawa. Padahal selama ini orang-orang selalu menatapku dengan rasa iba. “Hei..kenapa menertawaiku??” tanyaku. Ia pun menjawab : “tampangmu sangat suram!” Ternyata remaja itu akan menjalani operasi, kakinya akan diamputasi besok. Mengetahui hal itu, hatiku tersentuh dengan belas kasihan dan mengintrospeksi diri sendiri. Jika dia saja bisa tertawa dan bersyukur juga bersukacita padahal ia tahu bahwa ia akan menjadi orang cacat sebentar lagi, mengapa aku tidak bisa mencontohi apa yang ia lakukan? Aku pun sedikit terhibur dengan jawabannya itu..haha…

Aku dipulihkan


Remaja itu menginspirasikanku untuk menyadari betapa jahatnya aku karena menyalahkan Tuhan atas kejadian ini. Sejak saat itu aku merasa dipulihkan dan hatiku diubahkan sepenuhnya. Aku berdoa memohon ampun pada Tuhan dan aku tahu Dia telah mengampuniku jauh sebelum aku meminta ampun padaNya. Aku jadi lebih bersemangat dalam menjalani hidupku. Dan aku yakin Tuhan pasti menolong dan menyembuhkanku. Walaupun hari-hari pengobatan yang aku alami sangatlah berat dan melelahkan, tapi aku berusaha menjalani dengan penuh sukacita. Perlahan tapi pasti, kesehatanku dipulihkan seiring dengan pemulihan hidupku di dalam Tuhan. Dan mukjizat kesembuhan yang ajaib terjadi padaku. Aku tidak cacat seperti yang terbayang sebelumnya ketika aku melihat kaki dan wajahku akibat tragedi pesawat beberapa waktu yang lalu.

Kehidupan keluargaku juga dipulihkan


Melalui peristiwa ini, keluargaku pun dipulihkan. Tuhan bekerja dengan cara yang sangat luar biasa dalam hidup kami. Lewat mukjizat yang telah Tuhan kerjakan dalam hidupku, aku menyerahkan seluruh hidupku padaNya dan menjadi pelayan Tuhan di gerejaku saat ini. Tuhan bekerja begitu ajaib dalam hidupku. Pengalamanku ini telah menjadi inspirasi dan kekuatan bagi banyak umat Tuhan yang mendengarkan kesaksianku di gereja-gereja.


Referensi


Jawaban.com

Facebook

0 Comments

Post a Comment